Label

Senin, 24 November 2014

Memetik Lembayung



Busur panah dewa cinta meregang mengganggu hembusan angin malam juga mata panahnya melebur hancur hingga serpihannya tertancap menyebar diatas permadani salju bulan Oktober,ternyata tragedi itu hanya karena dua insan muda yang berbenturan hati.
Seorang lelaki menyatakan perasaannya pada lembayung senja yang ia cintai tepat dipinggir kolam ikan hias bertemankan gerombolan ikan simpel bernyawa,aliran air kolam dan oksigen penghias riakkan air.
Di hari lahirnya lembayung senja itu,sang lelaki gugup namun optimis menekan kata dan perlahan keluarlah sebuah rangkaian pernyataan perasaan,yang getarannya melebihi getaran bola bumi yang jatuh dari tangan Atlas.
Atas kehendak Tuhan,lembayung senja menjawab pernyataan dan sinkronlah sudah persepsi mereka.
Kini luka masa lalu yang pernah mereka rasakan masing-masing hilang sesaat dan seterusnya,hasil dari kesaksian bunga hijau mempersatukan mereka,hingga kuncupnya mekar.
Teruslah berlari hingga kalian merasakan bahagia dan pedih dibalik semua,namun jika mereka bertahan hingga titik balik perputaran ritual sang rasa,aku yakin itu lebih indah dari apa yang didapat dari rangkaian bahagia yang terjadi sesaat.
Aku tahu lelaki bodoh itu nekat akan sebuah perbuatan yang ia lakukan untuk seorang yang awalnya jatuh takut akan apapun,meski itu kebenaran yang hakiki.
Namun si bodoh tetap saja teguh dengan perasaannya,kalau terbayangkan aura chemistry disekitar mereka saat itu,bagaikan Leonardo Da Vinci yang melukiskan sebuah abstrak saat dirinya dibawa iblis emosi dan luka arogan,hasilnya ekspresif,berwarna namun bertahap bergradasi mengikuti alur yang dibuat teater hati.
Semarak merekam ledakkan yang bersemayam disekitar raga cinta perawan dan perjaka.
Lembayung Senja ...

irhasfii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar