Busur
panah dewa cinta meregang mengganggu hembusan angin malam juga mata panahnya
melebur hancur hingga serpihannya tertancap menyebar diatas permadani salju
bulan Oktober,ternyata tragedi itu hanya karena dua insan muda yang berbenturan
hati.
Seorang
lelaki menyatakan perasaannya pada lembayung senja yang ia cintai tepat
dipinggir kolam ikan hias bertemankan gerombolan ikan simpel bernyawa,aliran
air kolam dan oksigen penghias riakkan air.
Di hari
lahirnya lembayung senja itu,sang lelaki gugup namun optimis menekan kata dan
perlahan keluarlah sebuah rangkaian pernyataan perasaan,yang getarannya
melebihi getaran bola bumi yang jatuh dari tangan Atlas.
Atas
kehendak Tuhan,lembayung senja menjawab pernyataan dan sinkronlah sudah
persepsi mereka.
Kini
luka masa lalu yang pernah mereka rasakan masing-masing hilang sesaat dan
seterusnya,hasil dari kesaksian bunga hijau mempersatukan mereka,hingga
kuncupnya mekar.
Teruslah
berlari hingga kalian merasakan bahagia dan pedih dibalik semua,namun jika
mereka bertahan hingga titik balik perputaran ritual sang rasa,aku yakin itu
lebih indah dari apa yang didapat dari rangkaian bahagia yang terjadi sesaat.
Aku tahu
lelaki bodoh itu nekat akan sebuah perbuatan yang ia lakukan untuk seorang yang
awalnya jatuh takut akan apapun,meski itu kebenaran yang hakiki.
Namun si
bodoh tetap saja teguh dengan perasaannya,kalau terbayangkan aura chemistry
disekitar mereka saat itu,bagaikan Leonardo Da
Vinci yang melukiskan sebuah abstrak saat dirinya dibawa iblis emosi dan luka
arogan,hasilnya ekspresif,berwarna namun bertahap bergradasi mengikuti alur
yang dibuat teater hati.
Semarak
merekam ledakkan yang bersemayam disekitar raga cinta perawan dan perjaka.
Lembayung
Senja ...
irhasfii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar